mujahidin

Karena getol menyuarakan penegakan syariat Islam dan pemberantasan tempat maksiat, sebuah masjid yang juga berfungsi sebagai madrasah di Pakistan diserbu aparat. Dengan dalih memberangus gerakan radikal ala Taliban, pemerintah Pakistan melakukan tindakan represif. Puluhan santri gugur bersimbah darah.

Masjid Lal atau biasa disebut dengan Masjid Merah yang terletak di kota Islamabad, Pakistan, berubah menjadi ajang pertempuran berdarah, Selasa (3/7) lalu. Ribuan pelajar Muslim yang berasal dari dua madrasah di komplek masjid tersebut, Jamia Hafsa dan Jamia Faridia, terlibat bentrokan dengan aparat keamanan Pakistan. Berpakaian khas santri lengkap dengan peci putih dan celana yang menggantung di atas mata kaki, santri yang mengenakan tongkat kayu itu berhadapan dengan barisan aparat bersenjata lengkap. Korban pun tak bisa dihindarkan. Empat hari pasca bentrokan, menurut pimpinan Masjid Merah, 70 orang santri meninggal dunia, 30 diantaranya adalah wanita.
Peristiwa bermula dari aksi demonstrasi ratusan santri yang menginginkan pemberantasan tempat maksiat dan penegakan syariat Islam di Pakistan. Mereka menilai pemerintah pimpinan Pervez Musharaf ini tidak bisa mencegah maraknya kemungkaran dan menghambat penegakan syariat Islam. Buntutnya, para santri yang sudah lama memendam kekecewaan melakukan aksi razia tempat-tempat maksiat. Bulan Juni lalu, sebuah klinik akupuntur yang diduga kuat menjadi sarang pelacuran, digerebek para santri. Mereka kemudian menahan enam warga negara Cina yang berada di tempat tersebut.
Sebelumnya, santri perempuan dengan mengenakan cadar dan pakaian hitam juga turun ke jalan. Bersenjatakan tongkat kayu, mereka melakukan aksi sweeping tempat-tempat maksiat. “Ini adalah buntut kekecewaan kami terhadap maraknya tempat-tempat maksiat. Kami sudah tidak bisa berharap pada pemerintah,” ujar seorang santriwati yang tidak ingin disebutkan namanya, saat aksi sweeping berlangsung.
Peristiwa bentrokan yang terjadi di siang bolong, Selasa (3/7) lalu dipicu oleh aksi aparat yang memblokade kawasan sekitar masjid tersebut untuk mencegah aksi demonstrasi ribuan santri yang menuntut pemberantasan tempat-tempat maksiat di Pakistan. Entah mengapa, tiba-tiba bentrokan pecah. Awalnya hanya beberapa puluh santri yang terlibat baku pukul dengan aparat yang sudah menyiapkan gas air mata dan senjata berpeluru tajam. Bentrokan makin membesar setelah tersiar kabar aparat akan melakukan tindakan yang lebih keras dengan mengambil alih masjid tersebut dan melakukan penangkapan terhadap para santri.
Pemerintah, seperti dilaporkan wartawan BBC, juga mengerahkan pasukan khusus. “Aparat keamanan sudah bertindak brutal,” ujar Pimpinan Masjid Merah, Maulana Abdul Rasyid Ghazi, saat bentrokan pertama pecah. “Kami panik, tapi tidak takut. Tak seorang pun meninggalkan lokasi. Kepercayaan memberi kekuatan dalam situasi seperti ini,” kata Mahira, salah seorang santri madrasah tersebut seperti dikutip Reuters.
Sementara itu, Juru Bicara pemerintah Pakistan, Javed Shima, mengatakan aparat yang berkumpul di sekitar masjid awalnya akan membebaskan empat personil polisi yang disandera para santri bersamaan dengan disanderanya enam warga negara Cina yang diduga menyalahgunakan klinik akunpuntur menjadi sarang pelacuran. Selain itu, aparat juga membekuk 40 santri yang diduga terlibat dalam aksi tersebut. “Empat puluh orang itu diduga aktor kerusuhan,” jelas Shima. Aparat juga menyebut orang-orang yang berada dalam komplek masjid itu sebagai “santri bersenjata”. Hal ini, kata aparat, terbukti dengan adanya tembakan balasan dari dalam masjid yang menyebabkan seorang para militer, dua orang polisi, dan seorang juru kamera tewas.
Usai bentrokan, aparat melakukan jam malam dan terus menjaga ketat kawasan tersebut. Pagi harinya, Rabu (4/7), penyerbuan terhadap masjid tersebut kembali dilakukan, meskipun korban terus berjatuhan. “Ini bukan sebuah operasi (militer). Aparat keamanan tidak akan melakukan penembakan terhadap orang-orang di dalam masjid,” terang Menteri Dalam Negeri Aftaf Ahmad Khan Sherpao.
“Kami tidak ingin terjadi pertumpahan darah,” tambahnya. “Kami meminta mereka untuk menyerah dan meletakan senjata mereka. Jika ada yang keluar dengan menggunakan senjata, maka dia akan mendapat jawaban peluru,” Deputi Menteri Dalam Negeri, Zafar Waraich menambah penjelasan.
Maulana Abdul Rasyid Ghazi membantah jika para santrinya dituduh melakukan penculikan terhadap enam orang perempuan berkewarganegaraan Cina. “Kami tidak menculik mereka. Kami hanya membawa mereka ke sini (Masjid Merah) untuk membujuk mereka agar menutup bisnis haramnya,” bantah Ghazi. “Mereka menjalankan bisnis mesum dengan nama panti pijat dalam beberapa tahun ini. Kami sudah menginformasikan kepada aparat tentang keberadan tempat maksiat itu, tetapi tidak ada aksi sehingga kami melakukan langkah seperti ini,” tambahnya. Ghazi menyatakan, setelah mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, warga Cina tersebut dilepas.
Ghazi mengatakan masih ada ribuan orang yang terdiri dari anak-anak dan perempuan yang berada dalam Masjid Merah itu. Sedangkan ribuan santri lainnya, terpaksa menyerah setelah aparat bersenjata lengkap dengan menggunakan helikopter dan bom pendobrak mengepung kawasan itu. “Ini peringatan. Kami memberi waktu untuk menyerah dengan damai,” kata pejabat senior setempat. “Pasukan bersenjata akan masuk ke masjid. Kami juga sudah siapkan peledak untuk menghancurkan pintu. Tapi kita belum akan masuk sampai mereka menyerah,” tambahnya.
Menanggapi ancaman itu, Ghazi cuma berujar enteng, “Kami bukan teroris. Jadi mengapa kami harus meletakkan senjata,” ujar Ghazi yang bersama adiknya, Maulana Abdul Aziz, kerap dituding pemerintah Pakistan sebagai tokoh yang mengadopsi perjuangan Taliban. Ghazi menyatakan pihaknya siap berdialog jika aparat keamanan menghentikan serangan dan pengepungan terhadap mereka. “Kami masih siap untuk berdialog. Tetapi pemerintah harus menghentikan operasi terlebih dulu. Kami tidak takut untuk mati. Kami akan membela diri,” tegasnya.
Dalam pengepungan yang cukup mencekam itu Abdul Aziz tertangkap setelah menyamar ke luar dengan mengenakan burqa khas santri perempuan. Setelah tertangkap Aziz menyerukan para santri yang berada di dalam untuk menyerah atau melarikan diri. Aziz juga menghimbau agar diadakan pendekatan dialogis terkait kondisi terbaru di komplek masjid itu.
Sejak dicap sebagai tempat yang dijadikan basis penyebaran ‘paham Taliban’ oleh pemerintah Pakistan, keberadaan Masjid Merah terus menjadi sorotan. Pro-kontra antara yang mendukung kelompok tersebut dengan kelompok yang menolak terus meruncing. Bulan Juni lalu, Syaikh Abdurrahman as-Sudais, Imam Masjidil Haram, sempat menjadi mediator antara pimpinan Masjid Merah dengan pemerintah Pakistan yang dipimpin Jenderal Pervez Musharraf. Dialog itu, entah kenapa, tak mendatangkan solusi yang berarti, hingga tragedi berdarah Selasa (3/7) lalu terjadi.
Sejak genderang perang terhadap terorisme disuarakan Amerika, pemerintah Pakistan yang ikut dalam gerbong war on terrorism yang diusung AS, mulai mengawasi madrasah-madrasah yang ada di negaranya. Beberapa silabus pendidikan agama bahkan berusaha dihapus, atau dirombak atas kemauan pemerintah. Hal inilah yang memicu kelompok Muslim di Pakistan yang anti AS untuk melakukan perlawanan.