November 2007



“Wess…. bim..bim…” Supra kesayanganku melaju dengan mulus melintas stasiun balapan. Menyibak sejuknya udara pagi kota solo. Beberapa menit kemudian tepat di pertigaan jalan, kulihat akhwat berjilbab besar menyeberang jalan. “Upsst…. ghadul bashar mas…” (halah… ko hanya sama akhwat tho’… :) suara hatiku mengingatkan, dengan sedikit liukan dan injakan rem, akhirnya akhwat itupun bisa menyeberang sampai tujuan.

Hari pun berulang. Seolah memutar adegan yang sama, setiap kali aku melintas di tempat itu, kulihat akhwat itu mondar mandir melintas di jalan yang sama. Usut punya usut, ternyata akhwat itu sedang menjaga kios bensin di seberang jalan. Dan di seberang jalan satunya, suaminya sedang asyik di tenda yang bertuliskan “menerima servis jam tangan”. Mereka menyambung hidup di tepi jalan.

Akhwat jualan bensin..?!

***

Sore itu, langit masih mendung. Hujan rintik-rintik mengguyur tempatku berdiri, di belakang deretan kios buku Sri Wedari. Dari kejauhan kulihat seorang penjual salome mengayuh sepeda bututnya. Seolah mengatakan pada sepedanya “Ayo.. kamu bisa”.

Gerimis mulai reda. Kembali kususuri kios demi kios di belang Sri Wedari ini. Dan tepat di kios yang aku cari, ibu si penjual salome tadi menjajakan salomenya ke penjual buku. Berjilbab besar, berjubah dan berkaus kaki.

Umahat jualan salome…!!?

***

“Ukh…. semoga Allah mengampuni segala dosaku…. Aku tidak bisa 100% mengamalkan dien ini dnegan benar. Antum tau saat ini saya sedang dimana? Pulang dari ngajar privat. Aku tau ini salah. Tidak seharusnya akhwat keluar malam. Tapi Ukh… aku tidak mau merepotkan orang tuaku. Mereka sudah susah untuk menghidupi keluarga. Aku tidak tega bila harus menambah beban mereka. Biar biaya kuliahku aku sendiri yang menaggung. Aku juga pengin untuk segera menikah… tapi bagaimana mungkin….jika kondisi keluargaku saja masih seperti ini? Aku ingin membahagiakan mereka dulu… Ukh.. do’akan aku agar tetap istiqomah di jalan-Nya”. Sepenggal sms yang ditujukan kepada istriku dari temannya. Jam dinding masih berdetak, tepat pukul 19.45 wib.

***

Duhai diri apakah engkau masih mengeluh atas segala nikmat pemberian-Nya??

 

Meja perenungan

Kamis, 15 Nopember 2007

shock breaker

Jangan salah kira dulu, judul di atas bukan tulisan jerman lho… Itu tulisan yang saya baca di plank di pinggi jalan. Masih banyak teman sejawatnya yang lain. Dari yang biasa dan lugu sampai yang dibuat keren semua ada. Misal, sok beker, skok beker, sekox biker, skog beker, shox breker atau bahkan skog breker. Belum lagi saudara tirinya, kentheng mejik, kenteng mejig, kenteng magic, kentheng majik, kenteng mijik atau bahkan kuenteng muagic (yang benar yang mana hayooo…?)

Hehehe… jadi lucu saat membacanya. Penglihatanku langsung tertambat di plank-plank itu bila sesekali melintas di bengkel SHOCK BREAKER atau di KENTHENG MAGIC. Memang bahasa Indonesia menyerap banyak kata-kata asing baik lokal maupun non-lokal. Jadi wajar bila selalunya banyak ditemui kata-kata nyleneh. Lha wong tulisan di koran atau buku saja masih banyak yang perlu diedit. Apalagi di jalanan.

Hehehe… Maklum di kantor kerjaannya meng-edit tulisan… :)