Posted by yuniyanto under
Diariku [7] Comments
Byurrr…
blup…blup…
Aku sudah kangen renang di Pengging. Kolam renang peninggalan kerajaan Kartasura ini memang pas untuk renang. Pantas saja dulu para putri raja banyak yang betah bermain-main di kolam ini. Meskipun sudah tua danbanyak perubahan di banyak sudut bangunan, kompleks kolam renang ini tetap saja sejuk dan rindang.
>>>
Posted by yuniyanto under
Diariku,
Tau Nggak? [5] Comments
Ada kebiasaan baru di kantorku, tradisi ngantuk saat jam ngantor. Bayangkan jika dalam sehari rata-rata seseorang tidur di kantor selama 2 jam di luar jam istirahat. Anehnya lagi, tidurnya ga pandang tempat. Asal suasana tenang dan teduh, yah.. pulas deh. tak pandang bulu sedang posisi duduk, jongkok atau bersandar. Puihh… enake rek…
Lucunya, “Virus Kantuk” ini hanya menyerang mereka yang baru saja menikah. Tak kirain dulu pas aku nikah hal itu hanya omong kosong belaka. Eee… ternyata banyak yang kena juga (ngantuk juga). Satu sampel, tentunya belum cukup buatku untuk membenarkan hipotesa ini. Tapi dugaan ku mulai terpatahkan saat temanku yang lain yang baru saja nikah satu pekan yang lalu, tidur di bawah meja karena ngantuk berat. Ngobrol belum ada lima menit, langsung hilang di alam mimpi. Alamaak…..
Sebenarnya kasus serupa merupakan hal yang wajar. Asal bisa mengatur ritmenya saja Insya Allah akan sembuh. Maklum ada yang mengganggu jadwal tidur
(eh.. mengganggu atau diganggu??)
Cek…cek..cek… Bagi yang lum nikah mungkin bisa dipersiapkan bantalnya di kantor mulai sekarang ya… !! Waaksss….
Posted by yuniyanto under
Tau Nggak? [4] Comments
Ada yang mau nulis buku?
Ternyata tidak sedikit lho yang berminat dan berkeinginan selangit untuk nulis buku, tapi yang bener-bener bisa nulis dan jadi buku itu yang sedikit. Apalagi yang diterbitkan… wah lebih sedikit lagi.
Menjadi seorang penulis itu ibarat ibu yang akan melahirkan anak. Ada kaitan yang sangat erat antara menulis dengan mengandung, yaitu sama-sama MELAHIRKAN. Jika seorang ibu yang mengandung akan melahirkan anak, maka seorang penulis yang “mengandung” ide akan melahirkan buku. Teknik menulis agar dapat melahirkan buku yang baik ternyata sama persis dengan teknik merawat bayi dalam kandungan agar nantinya melahirkan bayi yang sehat… (cieee… kapan jadi dokter mas…?
Sebagai seorang penulis tentunya harus mempunyai seabreg ide yang telah dipersiapkan. Ide ini bisa muncul dari mana saja, dari internet, saat jalan-jalan, di pasar atau saat baca buku. Atau bahkan saat dimarahi atasan (upssst…
). Jika ide sudah didapat segera simpan baik-baik dalam memori dan tambahkan ide-ide lain yang bersangkutan dengan ide utama tadi. Penambahan ide inilah yang disebut “mengandung Ide”. Bagusnya seseorang yang mengandung ide itu akan berkembang dan membesar seiring berjalannya waktu. Sebenarnya kita menemui banyak ide yang berseliweran di depan kita. Hanya saja perlu latihan yang serius agar ide-ide yang berserakan tadi bisa kita satukan. dan jadilah tema yang menarik untuk membuat buku.
Nah, jika ide tadi sudah terkumpul, segera tuangkan dalam bentuk tulisan. Keluarkan seluruh ide yang ada dalam memori tadi. Seluruhnya! jangan tersisa! Inilah yang disebut proses MELAHIRKAN ide. Sulit memang tapi yakinlah itu akan membuat pikiran Anda lega. Inilah rahasia penulis-penulis kawakan. Mereka bisa menulis dengan cepat dan dalam waktu yang singkat karena memang telah mengandung. Dia sudah hamil tua, dan tangannya sudah gerah untuk melahirkan ide tersebut. sehingga jika tangan sudah bertemu pena dan kertas, terjadilah proses melahirkan (baca : menulis) ini dengan cepat. Luncuran ide mengalir dengan deras.
(lagi…)