Ada yang mau nulis buku?

Ternyata tidak sedikit lho yang berminat dan berkeinginan selangit untuk nulis buku, tapi yang bener-bener bisa nulis dan jadi buku itu yang sedikit. Apalagi yang diterbitkan… wah lebih sedikit lagi.

Menjadi seorang penulis itu ibarat ibu yang akan melahirkan anak. Ada kaitan yang sangat erat antara menulis dengan mengandung, yaitu sama-sama MELAHIRKAN. Jika seorang ibu yang mengandung akan melahirkan anak, maka seorang penulis yang “mengandung” ide akan melahirkan buku. Teknik menulis agar dapat melahirkan buku yang baik ternyata sama persis dengan teknik merawat bayi dalam kandungan agar nantinya melahirkan bayi yang sehat… (cieee… kapan jadi dokter mas…? :)

Sebagai seorang penulis tentunya harus mempunyai seabreg ide yang telah dipersiapkan. Ide ini bisa muncul dari mana saja, dari internet, saat jalan-jalan, di pasar atau saat baca buku. Atau bahkan saat dimarahi atasan (upssst… :) ). Jika ide sudah didapat segera simpan baik-baik dalam memori dan tambahkan ide-ide lain yang bersangkutan dengan ide utama tadi. Penambahan ide inilah yang disebut “mengandung Ide”. Bagusnya seseorang yang mengandung ide itu akan berkembang dan membesar seiring berjalannya waktu. Sebenarnya kita menemui banyak ide yang berseliweran di depan kita. Hanya saja perlu latihan yang serius agar ide-ide yang berserakan tadi bisa kita satukan. dan jadilah tema yang menarik untuk membuat buku.

Nah, jika ide tadi sudah terkumpul, segera tuangkan dalam bentuk tulisan. Keluarkan seluruh ide yang ada dalam memori tadi. Seluruhnya! jangan tersisa! Inilah yang disebut proses MELAHIRKAN ide. Sulit memang tapi yakinlah itu akan membuat pikiran Anda lega. Inilah rahasia penulis-penulis kawakan. Mereka bisa menulis dengan cepat dan dalam waktu yang singkat karena memang telah mengandung. Dia sudah hamil tua, dan tangannya sudah gerah untuk melahirkan ide tersebut. sehingga jika tangan sudah bertemu pena dan kertas, terjadilah proses melahirkan (baca : menulis) ini dengan cepat. Luncuran ide mengalir dengan deras.

Bagi penulis pemula, proses mengumpulkan ide ini yang sulit. “Rahim” mereka belum cukup mampu untuk menampung ide dalam jumlah banyak. Maka terjadilah kelahiran prematur. Lahir sebuah tulisan tapi hanya setengah hati. MAka untuk penulis pemula disarankan membawa catatan kecil kemanapun pergi, sehingga jika ada ide yang tersangkut dalam pikiran langsung bisa ditulis dalam catatan kecil tadi.

Ada pula “hamil tua”, ini kasus seorang penulis yang tidak segera menorehkan ide-idenya yang sudah terkumpul. banyak tulisannya yang bolong-bolong karena banyak hal yang terkurangi. Ide bagus jika tidak terekam dnegan baik bisa hilang lho?

NAh yang paling bagus adalah “hamil muda”. Saat tubuh masih fresh, ide menyeruak banyak dan dengan timing yang tepat, tidak terlalu lama dan cepat, membuat tulisan jadi bagus…

Hemmm… silakan mencoba semoga bukunya segera diterbitkan…

hehehe….