Maret 2008


Benar juga, tak dinyana aku sudah di depan rumahnya, rumah calon istriku. Jantungku mulai berdegup kencang, keringat dingin tiba-tiba saja membasahi telapak tanganku. Seandainya aku seekor amoeba yang nempel di telapak tangan, mungkin aku sudah terlibas banjir bandang. Banjir keringat apek tanganku. Ku coba menenangkan diri kembali. “Bukankah setiap ikhwan yang sudah menikah juga mengalaminya? Ini kejadian yang wajar, sangat wajar, jadi bversikaplah yang tenang…!” batinku mengingatkan.

Aku tepat di depan rumahnya. Rumah yang sudah “kuintai” 2 hari yang lalu lewat google earth. Penelusuran canggih! detail rumah, pekarangan, sampai warna cat tembok pagarnya jelas. Habisnya ga memungkinkan kalau spy-spy nya lewat darat… gang buntu. kebayang kalau ditanya sama ibunya (pas spy-spy) “mau ke mana mas..?” , waduh mau njawab gimana?

Kuberanikan diri melangkahkan kaki menuju pintu depan. Sunyi, sepi, hanya pohon jati yang saling berbisik di terpa angin. “Tok..tok..tok…” kuberanikan diri mengetuk pintu rumahnya. Bapakku sudah di belakangku. Mungkin mempersiapkan diri “nembung” kan anaknya yang ingin menyelamatkan separuh diinnya ini.

Tak lama menunggu, daun pintu itupun akhirnya terbuka juga. Upstt…. benarkah ini bapaknya?? Aku setengah tidak percaya.  Ternyata bapakku adalah seseorang yang dulu pernah belajar bareng membaca Al-Quran bersamaku. Ingin kusembunyikan jati diriku. Malu, mungkin akan ada riak di hati. Kucoba untuk tetap tenang, setenang saat aku tertidur lelap di kamar (walah…. :) ).

Detik demi detik berlangsung dan akhirnya kata “mboten nopo-nopo, mugi tansah pikantuk kesaenan sami, tanggal nikahipun benjing kapan nggih pak?”. clesss….. bagai padang sahara yang tertimbun salju berton-ton, hatiku kembali cerah secerah langit siang itu. Hemmm… awal rumah tangga yang bagus, tanpa masalah, tanpa celah, dan semoga tetap begitu adanya hingga akhir nanti. Amiinnnn…….

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya, sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah, at-Tirmidzi berkata, Hadits hasan shahih)

 

Tepat jam 01.45, aku terbangun. Udara malam masih begitu dingin. Hanya sisa-sisa rintik hujan yang bergemerincing melantunkan nada lembutnya pembalut tidur lelapku. Dua jam berlalu sejak aku menemani istriku. Menahan sakit setelah satu hari kemarin dia kecapaian. Entah pukul berapa aku bisa tertidur, yang masih kuingat aku belum tertidur saat jam dindingngku menunjukkan pukul 11.30 malam. Aku sebenarnya juga mengantuk, namun demi istriku yang sangat aku sayangi, kuurungkan niatku sebelum istriku tertidur. Mungkin Allah ingin aku lebih bersabar.

Aku iri dengan istriku. Seringkali dia merintih menahan sakit saat janin yang berada dalam kandungannya “meronta”. Iri karena pahala yang menggunung yang tidak mungkin bisa kuraih. Hanya saat sakit mendera kukatakan kepadanya, “Bersabarlah, Insya Allah ada pahala yang sangat besar jika kamu bersabar.” Andai bisa berbagi, tentunya aku ingin juga merasakan sakit yang sama. Tapi itu tidak mungkin. (lagi…)