“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya, sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah, at-Tirmidzi berkata, Hadits hasan shahih)
Tepat jam 01.45, aku terbangun. Udara malam masih begitu dingin. Hanya sisa-sisa rintik hujan yang bergemerincing melantunkan nada lembutnya pembalut tidur lelapku. Dua jam berlalu sejak aku menemani istriku. Menahan sakit setelah satu hari kemarin dia kecapaian. Entah pukul berapa aku bisa tertidur, yang masih kuingat aku belum tertidur saat jam dindingngku menunjukkan pukul 11.30 malam. Aku sebenarnya juga mengantuk, namun demi istriku yang sangat aku sayangi, kuurungkan niatku sebelum istriku tertidur. Mungkin Allah ingin aku lebih bersabar.
Aku iri dengan istriku. Seringkali dia merintih menahan sakit saat janin yang berada dalam kandungannya “meronta”. Iri karena pahala yang menggunung yang tidak mungkin bisa kuraih. Hanya saat sakit mendera kukatakan kepadanya, “Bersabarlah, Insya Allah ada pahala yang sangat besar jika kamu bersabar.” Andai bisa berbagi, tentunya aku ingin juga merasakan sakit yang sama. Tapi itu tidak mungkin.
Seperti biasa, jam 02.00 istriku terbangun. Masih lemas dan terlihat lunglai. “Mas tolong ambilkan dede makan ya… Dede lapar.” pinta istriku. Ah… ini dia yang kutunggu-tunggu, akhirnya aku bisa dapat jatah pahala juga. Memang sejak awal kehamilan dua bulan yang lalu istriku tidak mau makan. setiap kali makan selalunya makanan itu dia muntahkan. hanya air liur yang selalu membuat dirinya “kenyang”, wajar kalau dia lemas. Uniknya dia akan doyan makan dan tidak muntah saat tepat pukul 02.00 malam.
Segera saja kuambil panci di dapur dan kumasakkan mie untuknya (maklum ga bisa masak…
). Dan setelah selesai memasak, kuhidangkan ke istriku di kamar. Alhamdulillah istriku makan dengan lahapnya. “Jazakumullah suamiku…” ucapnya lirih. Senyumnya yang merekah membuat hatiku bahagia tak terkata.
Ehmmm… malam ini dan malam-malam yang telah lalu dan akan datang, merupakan pahala bagiku. Semoga aku lulus dan meraih predikat terbaik di madrasah kesabaran ini. “Jazakillah istriku…”
April 13, 2008 at 12:47 am
wah….jadi kepengen nikah juga ne akh..
heheheheh
April 15, 2008 at 2:53 am
ga kebayang loh kang
Juni 11, 2008 at 11:09 am
wah, terkejut aku mas! antum dah punya apak dar cucu antum to? sudah lahir belum?
Juni 12, 2008 at 2:20 am
kalau cuma kepingin sih banyak temennya, yang berani nikah beneran… itu yang sulit dicari
dicoba ae… nanti rak ketagihan…hikss
alhamdulillah baru 5 bulan, doanya ya…
Januari 13, 2009 at 7:42 am
Sélamat ya..