Kritik memang pedas, tapi yakinlah manisnya ide besar biasanya terselip di antara pedasnya kritikan
Pokoknya tulis dulu
Tulisanku tak segera sampai ke layouter. Berminggu-minggu nangkring di komputer editor. Mulai dari editor bahasa yang sering bolak-balik membuka kamus sampai editor naskah yang sering bolak-balik membuka “kutubut tis’ah”, semua bekerja agar tulisan petama ku itu terlahir sempurna sebagai sebuah buku yang layak dijual.
Tapi saat naskah sampai di ketua imprint dan tim kreatif hujan kritik mulai mengguyur tulisanku. Tidak sesuai pasar lah, harus dirombak total lah, disuruh mengurangi tema-tema yang tidak perlu, sampai pada keputusan tragis BATAL DITERBITKAN. Tapi namanya juga tulisan perdana, kuulangi kembali naskahku tadi, untung saja pak editor naskah dan bahasa tetap setia menambal dan memperbaiki tulisanku. Dan akhirnya jadi juga tulisanku yang pertama.
Menulis memang gampang-gampang susah, tapi jika Anda sudah ketemu ide dan rentetan gagasan yang menyambung menjadi sebuah tema utama sebuah buku, tulislah! jangan perhatikan masalah EYD, kosa kata, atau aturan-aturan penulisan yang lain. Ini bukan saatnya mengedit, saat menulis Anda adalah penulis bukan editor. Nanti akan ada waktunya untuk “mengkritik” (baca: mewrevisi) tulisan agar didapat tulisan yang lebih baik. Pokoknya kalau ada ide tulis, tulis dan tulis!
Lontarkan semua ide yang berjibun dalam otak Anda ke dalam tulisan, jangan dihambat-hambati! Biarkan tangan asyik menulis sedang otak menerawang membayangkan ide yang akan ditulis.
Kritik = Ide
Saat tulisan sudah jadi, biasanya masih ada kekurangan di sana-sini. Wajar setiap orang punya cara pandang sendiri-sendiri. Saat itulah biasanya kritik terhadap tulisan kita mulai berdatangan. Mulai dari yang “brutal” sampai yang halus. Anggap saja kritikan itu sebagai masukan ide. Dari ide itulah kita bisa mengimprovisasi tulisan awal kita. Jadi jangan sewot dulu kalau tiba-tiba tulisan kita gagal terbit. Tanyakan apa sebabnya. Nah jika sudah ketahuan sebabnya, segera kerjakan dan Insya Allah tulisan kita akan jauh lebih baik.
Agustus 7, 2008 at 8:05 am
njaluk bukumu sing anyar nho yun!!
Desember 27, 2008 at 9:12 am
Saya setuju sekali
btw, bisa nyicipi buku barunya gak?
Kalo nyicipin gratis kan? he…he…