
Pernah bertengkar dengan suami? Jika ya, bisa jadi itu hanya karena suami Anda butuh kepercayaan dari Anda.
Seorang suami memiliki karakteristik khas yang tidak di miliki istri. Ia dipersiapkan oleh Allah untuk memimpin keluarga, menjaganya dan mengarahkannya. Allah swt berfirman dalam surat An-Nisâ’ ayat 34 : “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), …”
Allah SWT menanamkan pada dirinya sifat kepemimpinan sehingga dia mampu menjadi nakhoda kapal dan pemeliharanya. Oleh karena itu, laki-laki selalu cenderung pada kekuatan, kemampuan memenuhi kebutuhan, otoritas, dan penyelesaian masalah. Seorang suami tidak menyukai perilaku yang meremehkan sifat-sifat ini.
Hal ini juga berlaku saat mereka berinteraksi. Kata-kata buruk dan nada keras bisa dianggap oleh suami sebagai bentuk ketidakpercayaan istri atas kepemimpinannya. Laki-laki memiliki konsep khusus mengenai pribadi dan kelelakiannya. Suami mendefinisikan kelelakiannya sebagai kemampuan mencukupi kebutuhan, kebebasan diri, kemampuan memimpin, dan menentukan pendapatan.
Apabila istri tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tentang watak alami ini dan bergaul dengan suaminya dengan cara-cara yang tidak mengindahkan sifat-sifat itu, misalnya dia mendiktenya dengan sebuah contoh yang harus dikerjakan oleh suaminya atau dia berkata pada suaminya, “Tak seharusnya kau berbuat hal itu!”, maka suami akan merasa bahwa istrinya tidak mempercayainya atau meragukan kemampuannya dalam memimpin rumah tangga mereka.
Sebaliknya, jika istri selalu berusaha membuat suami merasakan kepercayaan istri terhadap diri dan kemampuannya mengurus berbagai perkara dan tantangan kehidupan, maka hal itu akan membahagiakan suami dan mendorongnya untuk lebih memuliakan dan mencintai istri. Barangkali istri tidak mengetahui bahwa sebenarnya suami itu hidup sebagai ‘tawanan sihir’ seorang istri yang pada saat-saat bersamanya suami merasa mendapati kewibawaannya, menikmati potensi kepemimpinan dan dominasinya.
Akan tetapi, bukan berarti hal ini menyuruh para istri untuk berperan negatif dalam kehidupan perkawinan atau tidak menyampaikan nasihat dan berdiskusi dengan suaminya. Sama sekali tidak, karena asas rumah tangga bahagia adalah komunikasi dan saling memuliakan antara kedua belah pihak. Yang perlu diketahui bersama bahwa watak laki-laki dan fitrahnya yang telah ditetapkan Allah cenderung pada kepemimpinan dan dominasi. Setiap istri yang cerdas diharapkan mengetahui hal itu dan menjauhi kata-kata yang menjadikan suaminya merasakan isyarat buruk bahwa istrinya tidak menghargai sifat-sifat tersebut padanya. Hendaknya seorang istri mengemas nasihatnya dengan kemasan yang mampu menjaga sifat kepemimpinan laki-laki serta menggunakan ungkapan-ungkapan yang sarat motivasi dan bukannya instruksi.
Misalnya dengan mengatakan kepada suaminya:
“Aku percaya engkau punya kelebihan”, sebagai ganti dari mengatakan, “Kamu banyak kekurangannya.”
“Sayang, engkau pasti lelah setelah seharian bekerja. Istirahatlah!” Sebagai ganti dari mengatakan, “Selalu kerja, kerja, dan kerja! Perhatikan aku sebentar kenapa sih?!”
Di antara kalimat negatif yang menyakiti suami sebagaimana berikut:
“Harusnya kamu berbuat begini dan begini…”
atau “Perhatikan kerapianmu! Kau tampak acak-acakan. ” bukankah akan lebih baik dan suami akan segera berubah jika dikatakan, “Engkau nampak lebih ganteng dengan baju ini…”
Begitulah tabiat suami, ia memiliki sifat dominasi dan kekuatan, karena memang sebagai pemimpin ia harus melindungi dan mengayomi seluruh anggota keluarga yang dipimpinnya. Hal yang seharusnya dipahami oleh setiap istri.
Desember 21, 2008 at 7:50 am
inspiring wrote…
Desember 30, 2008 at 3:25 am
terimakasih… semoga bermanfaat
Februari 22, 2009 at 2:00 pm
Alhamdulillah, lammaa tak jumpa !
Masya-Alloh. Ana tersentuh sekali dengan taushiah antum. Sayangnya belum bisa dipakai sekarang, mas.
Jazakallah.