Banyak suami dapat mendengarkan dengan baik teman kantornya,
Tapi sedikit yang sabar mendengarkan keluh kesah istrinya dengan seksama!

Matahari sudah mengintip peraduannya dalam senja. Angga terhuyung-huyung gontai menuruni tangga kantornya. Penat terasa di setiap persendian tubuhnya. Seharian ia membanting tulang, menatap tiap inci “istri kedua” si laptop pujaan hatinya. Meskipun begitu dia masih dapat bercanda lepas dengan teman kantornya, bergurau agar penat itu sedikit terobati. Setiap hari aktivitas itu dia lakoni, dengan harapan dapat menghidupi istri dan anaknya tercinta.

Sesampainya di rumah, istrinya, Zulaikha, menyambut dengan ceria. Senyum semburat menyimpul di sudut-sudut bibirnya yang sedari tadi sudah ia bersihkan untuk suami tercinta. Walaupun sebenarnya tubuhnya yang kecil itu juga merasakan penat yang sama dengan suaminya. Si Arif, anak kecilnya, sedari pagi tadi menangis terus. Cucian yang menumpuk, teras yang kotor tadi pagi, sekarang sudah bersih semua. Teh hangat juga sudah tersaji di atas meja, persis sama saat Angga akan berangkat kerja. Namun Angga hanya membalasnya dengan sikap datar. Angga yang telah lelah, merobohkan tubuhnya di atas kasur. Bergeming terhadap Zulaikha.
Malam mulai tiba, Isya’ telah lewat sedari tadi. Zulaikha mencari-cari kesempatan agar dapat bercanda dengan suaminya. Ia hanya ingin merasakan bahwa dirinya “ada” dalam kehidupan suaminya. Ia hanya ingin diperhatikan suaminya, hanya itu. Tapi apa dikata, Angga sudah terlelap dalam alam mimpinya. Meninggalkan Zulaikha dengan sejuta pengharapan.
Duhai suami, apa yang kau inginkan dari pekerjaanmu seharian? Bukanlah salah satunya ingin menjadikan istri dan anakmu bahagia? Apakah pembicaraan di kantor sudah membuatmu “kenyang” sehingga untuk istrimu sudah tidak ada tempat lagi? Jika para suami masih menganggap pembicaraan di kantor / tempat kerja sangat penting, lebih penting mana dengan urusannya Rasulullah saw, padahal beliau sangat memperhatikan setiap bait kata-kata istrinya saat istri beliau mulai bercerita.
Diriwayatkan dari Aisyah ra, dia bercerita tentang kisah sebelas wanita dengan suaminya, “Sebelas orang wanita bersepakat untuk menceritakan perihal suami mereka. Wanita pertama berkata, ‘Suamiku seperti daging unta busuk yang berada di puncak bukit tinggi yang tidak dapat didaki. Ia tidak berlemak dan tidak mudah bergerak.’ Wanita kedua berkata, ‘Aku tidak boleh menceritakan suamiku. Aku khawatir tidak bisa berhenti menceritakannya. Sekiranya aku memberitahukannya, berarti aku membuka aibnya.’
Wanita ketiga berkata, ‘Suamiku telah membuat syarat. Jika aku bercerita, aku akan dicerai dan jika aku diam, aku akan dikasihi.’ Wanita keempat berkata, ‘Suamiku seperti cuaca di Negeri Tihamah; tidak panas dan tidak sejuk (sederhana), tidak menakutkan dan tidak menjemukan.’ Wanita kelima berkata, ‘Suamiku, ketika memasuki rumah seperti seekor harimau (karena banyak tidur dan malas bertanya), tetapi apabila beliau keluar seperti seekor singa (pemberani). Ia tidak akan bertanya perkara-perkara yang bukan urusannya.’
Wanita keenam berkata, ‘Suamiku apabila makan, ia habiskan makanannya. Jika minum, ia habiskan minumannya. Sekiranya tidur, ia berselimut dan tidak memasukkan telapak tangannya karena beliau tahu akan kesusahannya.’ Wanita ketujuh berkata, ‘Suamiku adalah seorang yang lemah syahwat. Walaupun telah berobat tetapi belum juga sembuh. Di samping itu, ia mudah menjatuhkan tangannya.’ Wanita kedelapan berkata, ‘Suamiku baunya wangi seperti Zarnab dan sentuhannya selembut kelinci.’
Wanita kesembilan berkata, ‘Suamiku berkedudukan tinggi, orang yang sukses, dermawan dan rumahnya berdekatan dengan tempat permainan.’ Wanita kesepuluh berkata, ‘Suamiku seorang pembesar dan banyak memiliki harta. Dia memiliki banyak unta. Sebagian besar untanya dibiarkan di halaman rumah. Oleh karena itulah untanya yang hamil sedikit. Sekiranya unta-unta itu mendengar tiupan seruling, mereka mengetahui bahwa mereka akan disembelih.’

Wanita kesebelas berkata, ‘Suamiku bernama Abu Zar’in. Tahukah kamu siapakah Abu Zar’in? Dialah yang memberiku anting-anting pada sepasang telingaku. Dialah yang memberiku makanan lezat sehingga aku kelihatan sehat. Dia suka memujiku. Dia mengambilku dari keluarga susah dan menjadikanku salah seorang anggota keluarga yang kaya. Dia tidak pernah mencaciku sehingga aku dapat tidur dengan nyenyak sampai pagi dan aku dapat minum dengan tenang. Lalu, bagaimana ibunya Abu Zar’in? Tahukah kalian siapa ibunya Abu Zar’in? Dia memiliki harta simpanan dan rumahnya sangat luas.

Bagaimana pula putranya Abu Zar’in. Tahukah kalian siapakah putranya Abu Zar’in? Tempat tidurnya seperti pelepah tamar. Dia merasa kenyang dengan makan sebelah kaki kambing. Bagaimana pula putrinya Abu Zar’in? Tahukah kalian siapakah putrinya Abu Zar’in? Dia sangat menaati kedua orang tuanya. Tubuhnya berisi dan akhlaknya baik. Bagaimana pula hamba sahaya perempuan milik Abu Zar’in? Tahukah kalian siapakah hamba sahaya perempuan milik Abu Zar’in? Dia tidak pernah menyebarkan rahasia-rahasia kami dan sangat jujur sekalipun dalam soal makanan. Dia tidak pernah membiarkan rumahku kotor.’
Setelah itu, wanita kesebelas itu berkata, ‘Pada suatu hari Abu Zar’in keluar dengan membawa kantong kulit berisi susu. Dia bertemu seorang wanita bersama kedua anaknya yang terlihat seperti dua ekor harimau kumbang. Mereka bermain-main dua biji delima di bawah pinggang ibunya. Abu Zar’in pun menceraikanku dan mengawini wanita itu. Setelah itu, aku kawin dengan seorang lelaki yang baik dan kaya. Binatang tunggangannya adalah seekor kuda terpilih. Dia membawaku ke kandang yang penuh dengan binatang ternak. Kemudian dia berkata, ‘Makanlah wahai Ummu Zar’in dan beristirahatlah supaya hilang kelelahan.’ Sekiranya aku kumpulkan pemberiannya dengan pemberian Abu Zar’in, niscaya pemberiannya tidak sama dengan pemberian Abu Zar’in yang paling sedikit.” Aisyah ra berkata, Rasulullah saw bersabda kepadaku, “Hubunganku denganmu seperti Abu Zar’in dengan Ummu Zar’in.” Dalam riwayat lain ditambahkan, “Bedanya; aku tidak menceraikanmu.” (HR Muslim, shahih)

Subhanallah…. bagaimana Rasulullah saw memperhatikan perkataan istrinya dengan seksama tanpa memotongnya, tergesa-gesa, atau merasa bosan? Yang lebih menakjubkan lagi, Rasulullah saw mengomentari dengan ungkapan yang indah:
” Hubunganku denganmu seperti Abu Zar’in dengan Ummu Zar’in. Bedanya, aku tidak menceraikanmu.”
Perhatikanlah bagaimana Rasulullah saw dengan berbagai kesibukan dan derita yang beliau alami masih menyempatkan diri untuk duduk dan memperhatikan pembicaraan istrinya. Dalam anggapan sebagian besar suami, bisa jadi pembicaraan itu kurang mengandung manfaat. Akan tetapi, beliau adalah guru pertama kita yang mengetahui kebutuhan istri untuk berbicara, mengungkapkan perasaan, dan mencari orang yang mau mendengar dan memahaminya.