Bareng Istri


Banyak suami dapat mendengarkan dengan baik teman kantornya,
Tapi sedikit yang sabar mendengarkan keluh kesah istrinya dengan seksama!

Matahari sudah mengintip peraduannya dalam senja. Angga terhuyung-huyung gontai menuruni tangga kantornya. Penat terasa di setiap persendian tubuhnya. Seharian ia membanting tulang, menatap tiap inci “istri kedua” si laptop pujaan hatinya. Meskipun begitu dia masih dapat bercanda lepas dengan teman kantornya, bergurau agar penat itu sedikit terobati. Setiap hari aktivitas itu dia lakoni, dengan harapan dapat menghidupi istri dan anaknya tercinta.

Sesampainya di rumah, istrinya, Zulaikha, menyambut dengan ceria. Senyum semburat menyimpul di sudut-sudut bibirnya yang sedari tadi sudah ia bersihkan untuk suami tercinta. Walaupun sebenarnya tubuhnya yang kecil itu juga merasakan penat yang sama dengan suaminya. Si Arif, anak kecilnya, sedari pagi tadi menangis terus. Cucian yang menumpuk, teras yang kotor tadi pagi, sekarang sudah bersih semua. Teh hangat juga sudah tersaji di atas meja, persis sama saat Angga akan berangkat kerja. Namun Angga hanya membalasnya dengan sikap datar. Angga yang telah lelah, merobohkan tubuhnya di atas kasur. Bergeming terhadap Zulaikha.
Malam mulai tiba, Isya’ telah lewat sedari tadi. Zulaikha mencari-cari kesempatan agar dapat bercanda dengan suaminya. Ia hanya ingin merasakan bahwa dirinya “ada” dalam kehidupan suaminya. Ia hanya ingin diperhatikan suaminya, hanya itu. Tapi apa dikata, Angga sudah terlelap dalam alam mimpinya. Meninggalkan Zulaikha dengan sejuta pengharap (lagi…)

Pagi tadi, baru saja istriku menelponku. Katanya hanya ingin mendengar suara saya. Wah…wah… aku jadi tersanjung, gimana nggak tersanjung? lha wong suara kayak geledek gini kok dibilang merdu, syahdu, mendinginkan Qalbu (halah, dua kata terkahir tambahan saya kok… :D ). Btw, begitulah cinta. KAlau orang sudah cinta, apa saja bisa beda. YAng tubunya pendek ee..di sebut imut, yang kulitnya hitam, dibilang sawo matang, yang suara serak (seperti saya) ee… dibilang merdu. Memang aneh…

Hal itu ukan barang baru, karena para pecinta memang budak bagi yang ia cintai. Para perindu merupakan tawanan, dan yang dicinta, yang dipuja merupakan raja. BEtapa banyak orang-orang yang terjungkal, terkorbankan demi meraih apa yang dipujanya. MAkanya tempatkan Allah sebagai puncak cinta, agar pengorbanan ini tidak sia-sia….


Lelaki diciptakan oleh Allah berbeda dengan wanita. Karakter yang Allah berikan pun berbeda. Dalam dunia keluarga banyak ditemui seorang istri yang mengeluhkan suami mereka yang terkadang diam, sedikit bicara, dan cenderung mengisolir diri. Mereka beranggapan suaminya sedang marah atau kesal kepadanya. Padahal tidak selalunya demikian.

Sifat diam memang membingungkan. Bayangkan jika suami atau istri Anda tiba-tiba diam seribu bahasa. Padahal sifat ini sering dilakkan oleh para suami. Sesungguhnya sikap diam adalah salah satu sifat laki-laki yang selalu diandalkannya dalam banyak keadaan, di antaranya:
• Ketika sedang mempunyai banyak pertanyaan tetapi tidak menemukan jawaban, atau sedang menemui jalan buntu.
• Sedang mengalami krisis atau berbagai masalah sebagaimana telah diterangkan di muka.
• Sedang memfokuskan pikiran terhadap suatu hal pelik.
• Sedang mempunyai keinginan untuk menata dan mengumpulkan kepercayaan dirinya.
Wahai para istri, tidak ada yang perlu engkau khawatirkan. Jangan biarkan kebingungan, keraguan, dan prasangka membelenggu jiwamu. A (lagi…)

love

Pernah bertengkar dengan suami? Jika ya, bisa jadi itu hanya karena suami Anda butuh kepercayaan dari Anda.


Seorang suami memiliki karakteristik khas yang tidak di miliki istri. Ia dipersiapkan oleh Allah untuk memimpin keluarga, menjaganya dan mengarahkannya. Allah swt berfirman dalam surat An-Nisâ’ ayat 34 : “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), …”

Allah SWT menanamkan pada dirinya sifat kepemimpinan sehingga dia mampu menjadi nakhoda kapal dan pemeliharanya. Oleh karena itu, laki-laki selalu cenderung pada kekuatan, kemampuan memenuhi kebutuhan, otoritas, dan penyelesaian masalah. Seorang suami tidak menyukai perilaku yang meremehkan sifat-sifat ini.

Hal ini juga berlaku saat mereka berinteraksi. Kata-kata buruk dan nada keras bisa dianggap oleh suami sebagai bentuk ketidakpercayaan istri atas kepemimpinannya. Laki-laki memiliki konsep khusus mengenai pribadi dan kelelakiannya. Suami mendefinisikan kelelakiannya sebagai kemampuan mencukupi kebutuhan, kebebasan diri, kemampuan memimpin, dan menentukan pendapatan.

Apabila istri tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tentang watak alami ini dan bergaul dengan suaminya dengan cara-cara yang tidak mengindahkan sifat-sifat itu, misalnya dia mendiktenya dengan sebuah contoh yang harus dikerjakan oleh suaminya atau dia berkata pada suaminya, “Tak seharusnya kau berbuat hal itu!”, maka suami akan merasa bahwa istrinya tidak mempercayainya atau meraguk (lagi…)

cinta istri

Ya, dalam rumah kenabianpun juga terjadi beberapa problematika rumah tangga. ini merupakan bukti terkuat bahwa rumah tangga selamanya tak akan pernah sepi dari pertengkaran kecil antara suami dan istri.


Nabi adalah lelaki terbaik yang paling sempurna akhlak, akal, dan imannya. Sedang istri beliau adalah wanita yang paling kuat kesadaran dan pemahaman mereka. Namun rumah tangga nabi juga tak lepas dari riak-riak kecil permasalahan rumah tangga. Telah dikabarkan bahwa terjadi sebuah permasalahan antara Rasulullah saw dan istri tercinta beliau Sayidah A’isyah rha, maka A’isyah meminta seorang penengah. Rasulullah saw berkata, “Bagaimana jika Abu Bakar (sebagai penengahnya)?” padahal Abu Bakar Ash-Shiddiq ra adalah ayahanda Aisyah rha. A’isyah menjawab, “Saya setuju, utuslah seseorang untuk memintanya datang.” Ketika Abu Bakr datang kepada keduanya, Rasulullah saw berkata kepadanya, “Kami memintamu datang supaya engkau menjadi penengah kami.” Kemudian Nabi menoleh pada A’isyah dan berkata, “Engkau yang terlebih dahulu berbicara atau aku?” Maka A’isyah menjawab: “Engkau yang terlebih dahulu berbicara, tapi jangan berbicara kecuali yang benar!” Maka Abu Bakar menampar wajahnya hingga bibirnya berdarah dan berkata, “Apakah Rasulullah saw pernah berbicara kecuali kebenaran wahai orang yang memusuhi dirinya sendiri!??”

A’isyah mencari perlindungan kepada Rasulullah saw dan duduk di belakang punggung beliau. Maka Rasulullah saw bersabda, “Kami tidak mengundangmu untuk melakukan ini (menampar), dan kami juga tidak ingin engkau berbuat seperti ini.”[1]

Pemandangan di atas memunculkan rasa takjub dan kagum, karena beliau adalah seorang yang maksum dari berbagai kesalahan. Namun demikian, beliau rela untuk memanggil penengah antara beliau dan istrinya. Yang lebih mengagumkan lagi adalah sikap berlindungnya Aisyah rha di belakang punggung Rasulullah padahal dia sedang marah kepada beliau. Inilah gambaran makna cinta yang takkan mungkin dapatkan di sekolah mana pun di muka bumi dan tidak terdapat dalam buku apa pun.

Cinta yang hakiki itu walaupun diterjang badai pertikaian atau kemarahan, ia tetap akan keluar sebagai pemenang pada akhirnya. Cinta yang hakiki adalah cinta yang dimiliki orang-orang yang berakal yang mengedepankan cinta mereka di atas segala permasalahan hidup sehing (lagi…)

Wahai para suami!

Wanita itu sangat membutuhkan orang yang memahaminya sebelum membutuhkan orang yang membuatnya paham.

Wanita selalu membutuhkan orang yang mau mendengarkannya sebelum membutuhkan orang yang mengarahkannya.

Wanita menginginkan seseorang yang dapat melindunginya dengan aman, bukan orang yang berlatih ceramah atau pidato ketika bersamanya.

Rasulullah saw ketika menyebut wanita memilih kata Qawârîr (kaca). Bukannya tanpa makna, arti kaca ternyata menyimpan rahasia yang besar. Sesungguhnya walaupun sekuat dan sekasar apa pun ketika berinteraksi dengan sebuah kaca, kita dipaksa untuk bersikap lemah lembut agar kaca itu tidak pecah sehingga kita tidak rugi.

Sesungguhnya wanita itu ditakdirkan menjadi sosok penuh cinta dan cantik dengan berbagai kepekaan emosi. Wanita secara alami bersifat romantis dan senantiasa merindukan telinga yang mau mendengarkannya, hati yang mau memahami dan mengerti perasaannya, serta tangan lembut penuh kasih yang membelai dan menimangnya. Watak dan perangai seorang istri berbeda dengan watak dan perangai seorang suami. Cara bicaranya dan cara memandang segala sesuatu pun juga berbeda. (lagi…)

Akhirnya selesai juga. Setelah berhari-hari membuat puisi untuk sang kekasih hati akhirnya puisi ini selesai juga. Mau tau hasilnya? Dengarkan ya…

(lagi…)

Benar juga, tak dinyana aku sudah di depan rumahnya, rumah calon istriku. Jantungku mulai berdegup kencang, keringat dingin tiba-tiba saja membasahi telapak tanganku. Seandainya aku seekor amoeba yang nempel di telapak tangan, mungkin aku sudah terlibas banjir bandang. Banjir keringat apek tanganku. Ku coba menenangkan diri kembali. “Bukankah setiap ikhwan yang sudah menikah juga mengalaminya? Ini kejadian yang wajar, sangat wajar, jadi bversikaplah yang tenang…!” batinku mengingatkan.

Aku tepat di depan rumahnya. Rumah yang sudah “kuintai” 2 hari yang lalu lewat google earth. Penelusuran canggih! detail rumah, pekarangan, sampai warna cat tembok pagarnya jelas. Habisnya ga memungkinkan kalau spy-spy nya lewat darat… gang buntu. kebayang kalau ditanya sama ibunya (pas spy-spy) “mau ke mana mas..?” , waduh mau njawab gimana?

Kuberanikan diri melangkahkan kaki menuju pintu depan. Sunyi, sepi, hanya pohon jati yang saling berbisik di terpa angin. “Tok..tok..tok…” kuberanikan diri mengetuk pintu rumahnya. Bapakku sudah di belakangku. Mungkin mempersiapkan diri “nembung” kan anaknya yang ingin menyelamatkan separuh diinnya ini.

Tak lama menunggu, daun pintu itupun akhirnya terbuka juga. Upstt…. benarkah ini bapaknya?? Aku setengah tidak percaya.  Ternyata bapakku adalah seseorang yang dulu pernah belajar bareng membaca Al-Quran bersamaku. Ingin kusembunyikan jati diriku. Malu, mungkin akan ada riak di hati. Kucoba untuk tetap tenang, setenang saat aku tertidur lelap di kamar (walah…. :) ).

Detik demi detik berlangsung dan akhirnya kata “mboten nopo-nopo, mugi tansah pikantuk kesaenan sami, tanggal nikahipun benjing kapan nggih pak?”. clesss….. bagai padang sahara yang tertimbun salju berton-ton, hatiku kembali cerah secerah langit siang itu. Hemmm… awal rumah tangga yang bagus, tanpa masalah, tanpa celah, dan semoga tetap begitu adanya hingga akhir nanti. Amiinnnn…….

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya, sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah, at-Tirmidzi berkata, Hadits hasan shahih)

 

Tepat jam 01.45, aku terbangun. Udara malam masih begitu dingin. Hanya sisa-sisa rintik hujan yang bergemerincing melantunkan nada lembutnya pembalut tidur lelapku. Dua jam berlalu sejak aku menemani istriku. Menahan sakit setelah satu hari kemarin dia kecapaian. Entah pukul berapa aku bisa tertidur, yang masih kuingat aku belum tertidur saat jam dindingngku menunjukkan pukul 11.30 malam. Aku sebenarnya juga mengantuk, namun demi istriku yang sangat aku sayangi, kuurungkan niatku sebelum istriku tertidur. Mungkin Allah ingin aku lebih bersabar.

Aku iri dengan istriku. Seringkali dia merintih menahan sakit saat janin yang berada dalam kandungannya “meronta”. Iri karena pahala yang menggunung yang tidak mungkin bisa kuraih. Hanya saat sakit mendera kukatakan kepadanya, “Bersabarlah, Insya Allah ada pahala yang sangat besar jika kamu bersabar.” Andai bisa berbagi, tentunya aku ingin juga merasakan sakit yang sama. Tapi itu tidak mungkin. (lagi…)

dirty-socks-thumb117127.jpg

Langit masih saja mendung. Awan kelihatan malas untuk segera beranjak dari tempatnya. Tak seperti hatiku yang berbunga-bunga, karena hari ini kali pertama aku dolan bareng istri ) . Deg-degan?! jelas nuh… maklum baru pertama kali mboncengin akhwat.

11.40 am, HP bututku segera kumasukkan lagi ke tas. “Saatnya sholat dhuhur”, segera kuantar istri ke kost temannya di belakang kampus. Kostnya akhwat rek…! Seumur-umur baru kali ini dolan ke kost akhwat seperti ini. Terbayang olehku kalau kost akhwat itu rapi, banyak bunga, bersih dan rindang.

Ciiiit… kuinjak rem dengan sigap di depan kost akhwat. Istriku pun segera beranjak masuk ke kost. Tapi tunggu dulu, Blak…!? Akhwat jualan “donat”?! (lagi…)

Halaman Berikutnya »