Benar juga, tak dinyana aku sudah di depan rumahnya, rumah calon istriku. Jantungku mulai berdegup kencang, keringat dingin tiba-tiba saja membasahi telapak tanganku. Seandainya aku seekor amoeba yang nempel di telapak tangan, mungkin aku sudah terlibas banjir bandang. Banjir keringat apek tanganku. Ku coba menenangkan diri kembali. “Bukankah setiap ikhwan yang sudah menikah juga mengalaminya? Ini kejadian yang wajar, sangat wajar, jadi bversikaplah yang tenang…!” batinku mengingatkan.
Aku tepat di depan rumahnya. Rumah yang sudah “kuintai” 2 hari yang lalu lewat google earth. Penelusuran canggih! detail rumah, pekarangan, sampai warna cat tembok pagarnya jelas. Habisnya ga memungkinkan kalau spy-spy nya lewat darat… gang buntu. kebayang kalau ditanya sama ibunya (pas spy-spy) “mau ke mana mas..?” , waduh mau njawab gimana?
Kuberanikan diri melangkahkan kaki menuju pintu depan. Sunyi, sepi, hanya pohon jati yang saling berbisik di terpa angin. “Tok..tok..tok…” kuberanikan diri mengetuk pintu rumahnya. Bapakku sudah di belakangku. Mungkin mempersiapkan diri “nembung” kan anaknya yang ingin menyelamatkan separuh diinnya ini.
Tak lama menunggu, daun pintu itupun akhirnya terbuka juga. Upstt…. benarkah ini bapaknya?? Aku setengah tidak percaya. Ternyata bapakku adalah seseorang yang dulu pernah belajar bareng membaca Al-Quran bersamaku. Ingin kusembunyikan jati diriku. Malu, mungkin akan ada riak di hati. Kucoba untuk tetap tenang, setenang saat aku tertidur lelap di kamar (walah….
).
Detik demi detik berlangsung dan akhirnya kata “mboten nopo-nopo, mugi tansah pikantuk kesaenan sami, tanggal nikahipun benjing kapan nggih pak?”. clesss….. bagai padang sahara yang tertimbun salju berton-ton, hatiku kembali cerah secerah langit siang itu. Hemmm… awal rumah tangga yang bagus, tanpa masalah, tanpa celah, dan semoga tetap begitu adanya hingga akhir nanti. Amiinnnn…….