nulis buku


Hampir 4 bulan lamanya aku tidak menulis di blog ini. Pengin rasanya nulis tiap hari. Curhat, agar hati ini tidak sumpeg. Ada temat menampung ide dan asa. Tapi apa daya, setiap mau nulis ada saja ide yang awalnya cemerlang menjadi buram dan serasa tak layak terbit.
Penyakit ga PD dan tidak punya orientsi menulis, itu mungkin yang saat ini aku alami. Juga teman-teman lain di redaksi. “Ide sih banyak mas…. tapi saat tangan ketemu key board yang terjadi malah berbenah file atau buka-buka file yang lain. Acara nulis jadi tertunda lagi. Ide jadi menguap entah ke mana”.
Menulis memang butuh ide. Ide adalah bahan bakar yang setiap waktu bisa habis. Jangan biarkan ide tersebut menguap begitu lama.  Segera eksekusi sebuah ide. PD ga PD,enak dibaca atau tidak itu urusan belakangan. Pokoknya eksekusi dalam bentuk tulisan. Insya Allah ide itu akan berkembang dan beranak pinak, yang akhirnya menjelma menjadi sebuah tulisan.

Kritik memang pedas, tapi yakinlah manisnya ide besar biasanya terselip di antara pedasnya kritikan

Pokoknya tulis dulu

Tulisanku tak segera sampai ke layouter. Berminggu-minggu nangkring di komputer editor. Mulai dari editor bahasa yang sering bolak-balik membuka kamus sampai editor naskah yang sering bolak-balik membuka “kutubut tis’ah”, semua bekerja agar tulisan petama ku itu terlahir sempurna sebagai sebuah buku yang layak dijual.

Tapi saat naskah sampai di ketua imprint dan tim kreatif hujan kritik mulai mengguyur tulisanku. Tidak sesuai pasar lah, harus dirombak total lah, disuruh mengurangi tema-tema yang tidak perlu, sampai pada keputusan tragis BATAL DITERBITKAN. Tapi namanya juga tulisan perdana, kuulangi kembali naskahku tadi, untung saja pak editor naskah dan bahasa tetap setia menambal dan memperbaiki tulisanku. Dan akhirnya jadi juga tulisanku yang pertama.

Menulis memang gampang-gampang susah, tapi jika Anda sudah ketemu ide dan rentetan gagasan yang menyambung menjadi sebuah tema utama sebuah buku, tulislah! jangan perhatikan masalah EYD, kosa kata, atau aturan-aturan penulisan yang lain. Ini bukan saatnya mengedit, saat menulis Anda adalah penulis bukan editor. Nanti akan ada waktunya untuk “mengkritik” (baca: mewrevisi) tulisan agar didapat tulisan yang lebih baik. Pokoknya kalau ada ide tulis, tulis dan tulis!

(lagi…)