Ya, dalam rumah kenabianpun juga terjadi beberapa problematika rumah tangga. ini merupakan bukti terkuat bahwa rumah tangga selamanya tak akan pernah sepi dari pertengkaran kecil antara suami dan istri.
Nabi adalah lelaki terbaik yang paling sempurna akhlak, akal, dan imannya. Sedang istri beliau adalah wanita yang paling kuat kesadaran dan pemahaman mereka. Namun rumah tangga nabi juga tak lepas dari riak-riak kecil permasalahan rumah tangga. Telah dikabarkan bahwa terjadi sebuah permasalahan antara Rasulullah saw dan istri tercinta beliau Sayidah A’isyah rha, maka A’isyah meminta seorang penengah. Rasulullah saw berkata, “Bagaimana jika Abu Bakar (sebagai penengahnya)?” padahal Abu Bakar Ash-Shiddiq ra adalah ayahanda Aisyah rha. A’isyah menjawab, “Saya setuju, utuslah seseorang untuk memintanya datang.” Ketika Abu Bakr datang kepada keduanya, Rasulullah saw berkata kepadanya, “Kami memintamu datang supaya engkau menjadi penengah kami.” Kemudian Nabi menoleh pada A’isyah dan berkata, “Engkau yang terlebih dahulu berbicara atau aku?” Maka A’isyah menjawab: “Engkau yang terlebih dahulu berbicara, tapi jangan berbicara kecuali yang benar!” Maka Abu Bakar menampar wajahnya hingga bibirnya berdarah dan berkata, “Apakah Rasulullah saw pernah berbicara kecuali kebenaran wahai orang yang memusuhi dirinya sendiri!??”
A’isyah mencari perlindungan kepada Rasulullah saw dan duduk di belakang punggung beliau. Maka Rasulullah saw bersabda, “Kami tidak mengundangmu untuk melakukan ini (menampar), dan kami juga tidak ingin engkau berbuat seperti ini.”
Pemandangan di atas memunculkan rasa takjub dan kagum, karena beliau adalah seorang yang maksum dari berbagai kesalahan. Namun demikian, beliau rela untuk memanggil penengah antara beliau dan istrinya. Yang lebih mengagumkan lagi adalah sikap berlindungnya Aisyah rha di belakang punggung Rasulullah padahal dia sedang marah kepada beliau. Inilah gambaran makna cinta yang takkan mungkin dapatkan di sekolah mana pun di muka bumi dan tidak terdapat dalam buku apa pun.
Cinta yang hakiki itu walaupun diterjang badai pertikaian atau kemarahan, ia tetap akan keluar sebagai pemenang pada akhirnya. Cinta yang hakiki adalah cinta yang dimiliki orang-orang yang berakal yang mengedepankan cinta mereka di atas segala permasalahan hidup sehing (lagi…)