Renungan


Saya muak dengan kampanye.

Benar-benar muak!!

Mereka sudah merebut seluruh inderaku. Penglihatanku, pendengaranku, penciumanku, otakku… juga perasaanku.

Masih adakah tempat untuk tidak melhat mereka, tampang culun dan sok mereka, bendera dan panji-panji mereka?

Masih adakah tempat yang bebas dari asap kenalpot, debu dan suara bising mereka?

Masih adakah tempat yangebas dari amplop-amplop jahannam itu yang membakar seluruh urat nadi.

yang terbebas dari goyangan wanita penghibur neraka?!

yang terbebas dari busa-busa mulut busuk penuh janji gombal seabad belum dicuci itu??!

yang terbebas dari rayuan busuk para pengemis ….

DAsar PEngemis!!!!!

Dasar tukang tipu, pembuat onar!!!!!!

Benar-benar memuakkan!!!!!!!

Banyak suami dapat mendengarkan dengan baik teman kantornya,
Tapi sedikit yang sabar mendengarkan keluh kesah istrinya dengan seksama!

Matahari sudah mengintip peraduannya dalam senja. Angga terhuyung-huyung gontai menuruni tangga kantornya. Penat terasa di setiap persendian tubuhnya. Seharian ia membanting tulang, menatap tiap inci “istri kedua” si laptop pujaan hatinya. Meskipun begitu dia masih dapat bercanda lepas dengan teman kantornya, bergurau agar penat itu sedikit terobati. Setiap hari aktivitas itu dia lakoni, dengan harapan dapat menghidupi istri dan anaknya tercinta.

Sesampainya di rumah, istrinya, Zulaikha, menyambut dengan ceria. Senyum semburat menyimpul di sudut-sudut bibirnya yang sedari tadi sudah ia bersihkan untuk suami tercinta. Walaupun sebenarnya tubuhnya yang kecil itu juga merasakan penat yang sama dengan suaminya. Si Arif, anak kecilnya, sedari pagi tadi menangis terus. Cucian yang menumpuk, teras yang kotor tadi pagi, sekarang sudah bersih semua. Teh hangat juga sudah tersaji di atas meja, persis sama saat Angga akan berangkat kerja. Namun Angga hanya membalasnya dengan sikap datar. Angga yang telah lelah, merobohkan tubuhnya di atas kasur. Bergeming terhadap Zulaikha.
Malam mulai tiba, Isya’ telah lewat sedari tadi. Zulaikha mencari-cari kesempatan agar dapat bercanda dengan suaminya. Ia hanya ingin merasakan bahwa dirinya “ada” dalam kehidupan suaminya. Ia hanya ingin diperhatikan suaminya, hanya itu. Tapi apa dikata, Angga sudah terlelap dalam alam mimpinya. Meninggalkan Zulaikha dengan sejuta pengharap (lagi…)

love

Pernah bertengkar dengan suami? Jika ya, bisa jadi itu hanya karena suami Anda butuh kepercayaan dari Anda.


Seorang suami memiliki karakteristik khas yang tidak di miliki istri. Ia dipersiapkan oleh Allah untuk memimpin keluarga, menjaganya dan mengarahkannya. Allah swt berfirman dalam surat An-Nisâ’ ayat 34 : “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), …”

Allah SWT menanamkan pada dirinya sifat kepemimpinan sehingga dia mampu menjadi nakhoda kapal dan pemeliharanya. Oleh karena itu, laki-laki selalu cenderung pada kekuatan, kemampuan memenuhi kebutuhan, otoritas, dan penyelesaian masalah. Seorang suami tidak menyukai perilaku yang meremehkan sifat-sifat ini.

Hal ini juga berlaku saat mereka berinteraksi. Kata-kata buruk dan nada keras bisa dianggap oleh suami sebagai bentuk ketidakpercayaan istri atas kepemimpinannya. Laki-laki memiliki konsep khusus mengenai pribadi dan kelelakiannya. Suami mendefinisikan kelelakiannya sebagai kemampuan mencukupi kebutuhan, kebebasan diri, kemampuan memimpin, dan menentukan pendapatan.

Apabila istri tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tentang watak alami ini dan bergaul dengan suaminya dengan cara-cara yang tidak mengindahkan sifat-sifat itu, misalnya dia mendiktenya dengan sebuah contoh yang harus dikerjakan oleh suaminya atau dia berkata pada suaminya, “Tak seharusnya kau berbuat hal itu!”, maka suami akan merasa bahwa istrinya tidak mempercayainya atau meraguk (lagi…)

cinta istri

Ya, dalam rumah kenabianpun juga terjadi beberapa problematika rumah tangga. ini merupakan bukti terkuat bahwa rumah tangga selamanya tak akan pernah sepi dari pertengkaran kecil antara suami dan istri.


Nabi adalah lelaki terbaik yang paling sempurna akhlak, akal, dan imannya. Sedang istri beliau adalah wanita yang paling kuat kesadaran dan pemahaman mereka. Namun rumah tangga nabi juga tak lepas dari riak-riak kecil permasalahan rumah tangga. Telah dikabarkan bahwa terjadi sebuah permasalahan antara Rasulullah saw dan istri tercinta beliau Sayidah A’isyah rha, maka A’isyah meminta seorang penengah. Rasulullah saw berkata, “Bagaimana jika Abu Bakar (sebagai penengahnya)?” padahal Abu Bakar Ash-Shiddiq ra adalah ayahanda Aisyah rha. A’isyah menjawab, “Saya setuju, utuslah seseorang untuk memintanya datang.” Ketika Abu Bakr datang kepada keduanya, Rasulullah saw berkata kepadanya, “Kami memintamu datang supaya engkau menjadi penengah kami.” Kemudian Nabi menoleh pada A’isyah dan berkata, “Engkau yang terlebih dahulu berbicara atau aku?” Maka A’isyah menjawab: “Engkau yang terlebih dahulu berbicara, tapi jangan berbicara kecuali yang benar!” Maka Abu Bakar menampar wajahnya hingga bibirnya berdarah dan berkata, “Apakah Rasulullah saw pernah berbicara kecuali kebenaran wahai orang yang memusuhi dirinya sendiri!??”

A’isyah mencari perlindungan kepada Rasulullah saw dan duduk di belakang punggung beliau. Maka Rasulullah saw bersabda, “Kami tidak mengundangmu untuk melakukan ini (menampar), dan kami juga tidak ingin engkau berbuat seperti ini.”[1]

Pemandangan di atas memunculkan rasa takjub dan kagum, karena beliau adalah seorang yang maksum dari berbagai kesalahan. Namun demikian, beliau rela untuk memanggil penengah antara beliau dan istrinya. Yang lebih mengagumkan lagi adalah sikap berlindungnya Aisyah rha di belakang punggung Rasulullah padahal dia sedang marah kepada beliau. Inilah gambaran makna cinta yang takkan mungkin dapatkan di sekolah mana pun di muka bumi dan tidak terdapat dalam buku apa pun.

Cinta yang hakiki itu walaupun diterjang badai pertikaian atau kemarahan, ia tetap akan keluar sebagai pemenang pada akhirnya. Cinta yang hakiki adalah cinta yang dimiliki orang-orang yang berakal yang mengedepankan cinta mereka di atas segala permasalahan hidup sehing (lagi…)


“Wess…. bim..bim…” Supra kesayanganku melaju dengan mulus melintas stasiun balapan. Menyibak sejuknya udara pagi kota solo. Beberapa menit kemudian tepat di pertigaan jalan, kulihat akhwat berjilbab besar menyeberang jalan. “Upsst…. ghadul bashar mas…” (halah… ko hanya sama akhwat tho’… :) suara hatiku mengingatkan, dengan sedikit liukan dan injakan rem, akhirnya akhwat itupun bisa menyeberang sampai tujuan.

Hari pun berulang. Seolah memutar adegan yang sama, setiap kali aku melintas di tempat itu, kulihat akhwat itu mondar mandir melintas di jalan yang sama. Usut punya usut, ternyata akhwat itu sedang menjaga kios bensin di seberang jalan. Dan di seberang jalan satunya, suaminya sedang asyik di tenda yang bertuliskan “menerima servis jam tangan”. Mereka menyambung hidup di tepi jalan.

Akhwat jualan bensin..?!

***

Sore itu, langit masih mendung. Hujan rintik-rintik mengguyur tempatku berdiri, di belakang deretan kios buku Sri Wedari. Dari kejauhan kulihat seorang penjual salome mengayuh sepeda bututnya. Seolah mengatakan pada sepedanya “Ayo.. kamu bisa”.

Gerimis mulai reda. Kembali kususuri kios demi kios di belang Sri Wedari ini. Dan tepat di kios yang aku cari, ibu si penjual salome tadi menjajakan salomenya ke penjual buku. Berjilbab besar, berjubah dan berkaus kaki.

Umahat jualan salome…!!?

***

“Ukh…. semoga Allah mengampuni segala dosaku…. Aku tidak bisa 100% mengamalkan dien ini dnegan benar. Antum tau saat ini saya sedang dimana? Pulang dari ngajar privat. Aku tau ini salah. Tidak seharusnya akhwat keluar malam. Tapi Ukh… aku tidak mau merepotkan orang tuaku. Mereka sudah susah untuk menghidupi keluarga. Aku tidak tega bila harus menambah beban mereka. Biar biaya kuliahku aku sendiri yang menaggung. Aku juga pengin untuk segera menikah… tapi bagaimana mungkin….jika kondisi keluargaku saja masih seperti ini? Aku ingin membahagiakan mereka dulu… Ukh.. do’akan aku agar tetap istiqomah di jalan-Nya”. Sepenggal sms yang ditujukan kepada istriku dari temannya. Jam dinding masih berdetak, tepat pukul 19.45 wib.

***

Duhai diri apakah engkau masih mengeluh atas segala nikmat pemberian-Nya??

 

Meja perenungan

Kamis, 15 Nopember 2007