Tau Nggak?


Banyak suami dapat mendengarkan dengan baik teman kantornya,
Tapi sedikit yang sabar mendengarkan keluh kesah istrinya dengan seksama!

Matahari sudah mengintip peraduannya dalam senja. Angga terhuyung-huyung gontai menuruni tangga kantornya. Penat terasa di setiap persendian tubuhnya. Seharian ia membanting tulang, menatap tiap inci “istri kedua” si laptop pujaan hatinya. Meskipun begitu dia masih dapat bercanda lepas dengan teman kantornya, bergurau agar penat itu sedikit terobati. Setiap hari aktivitas itu dia lakoni, dengan harapan dapat menghidupi istri dan anaknya tercinta.

Sesampainya di rumah, istrinya, Zulaikha, menyambut dengan ceria. Senyum semburat menyimpul di sudut-sudut bibirnya yang sedari tadi sudah ia bersihkan untuk suami tercinta. Walaupun sebenarnya tubuhnya yang kecil itu juga merasakan penat yang sama dengan suaminya. Si Arif, anak kecilnya, sedari pagi tadi menangis terus. Cucian yang menumpuk, teras yang kotor tadi pagi, sekarang sudah bersih semua. Teh hangat juga sudah tersaji di atas meja, persis sama saat Angga akan berangkat kerja. Namun Angga hanya membalasnya dengan sikap datar. Angga yang telah lelah, merobohkan tubuhnya di atas kasur. Bergeming terhadap Zulaikha.
Malam mulai tiba, Isya’ telah lewat sedari tadi. Zulaikha mencari-cari kesempatan agar dapat bercanda dengan suaminya. Ia hanya ingin merasakan bahwa dirinya “ada” dalam kehidupan suaminya. Ia hanya ingin diperhatikan suaminya, hanya itu. Tapi apa dikata, Angga sudah terlelap dalam alam mimpinya. Meninggalkan Zulaikha dengan sejuta pengharap (lagi…)

halah-halah

halah-halah

cek…cek…cek…. apa hubungannya coba?

Kebayang ga sebuah sepatu dihargai dengan 118 miliar rupiah? ga kebayang khan? seperti ga kebayangnya kita akan keberanian seorang wartawan yang melempar Bush sang teroris nomor wahid dunia dengan sepatunya. Sampai bush harus merunduk dan Nouri Al-Maliki, si kudishnya bush ikut membantu. Tapi yang jadi pertanyaan juga, 118 miliar nya itu lho? bukan banyaknya… tapi mubadzirnya….

Coba sedikit dicermati. Sepatu buatan iraq itu sebenarnya terbuat dari bahan-bahan umum pembuat sepatu. Bukan dari perak maupun emas. bukan dari sutera atau karena uniknya, tapi karena fungsinya. Fungsi dan kejadian yang membuat sepatu itu jadi mahal.

Jika demikian adanya, kenapa harus membeli sepatu itu demikian mahal? Kelihatannya orang-orang arab sudah bingung membuang uang. Milyader minyak bumi itu bingung membelanjakan uangnya untuk apa. Bukankah tidak jauh dari situ banyak yang membutuhkan dana. 188 Miliar itu cukup bagi mujahidin untuk menghantam bush, bukan hanya dengan sepatu tapi berjuta roket dan peluru kendali yang mampu menembus jantung baghdad.

Jadi, jika uang itu untuk menghargai kepahlawanan si wartawan mempermalukan bush, maka Mujahidin Iraq siap membuat lebih dari pada itu…..

Pagi ini aku disodori pertanyaan lucu lewat YM, “Mengapa aku sering ngantuk?”. Temenku ini baru saja menikah. belum ada sebulan, mungkin beru 3 pekanan. Hemmmm… semoga pernikahannya semakin menambah kedekatannya dengan Allah ta’ala. Namun ada kebiasaan aneh yang dia rasakan setelah menikah. Yup, apalagi kalau tidak sering ngantuk berat.

dian ****: Yun.koq aq ngantukan bar nikah ki?ngopo yo?
dian ****: Oo
Abdulloh yuni: baca di http://yuniyanto.wordpress.com/2008/01/10/ngantuknya-si-pengantin-baru/
Abdulloh yuni: perlu diteliti tuh
Abdulloh yuni: hehehe
Abdulloh yuni: ternyata…
Abdulloh yuni: kata pepatah, “mata ga bisa bohong”
Abdulloh yuni: :D

Wahhh kayaknya bener juga hipotesaku selama ini.

Ada yang mau nambahin data lagi?

Ngliat blognya bang bur, jadi kepingin ada shoutbox-nya juga. Tapi dua hari muter-muter di dunia maya pakai perahunya mbah gooogle, ga ketemu juga. Ketemunya paling banter kayak gini …. Ada yang bisa mbantu?

Kritik memang pedas, tapi yakinlah manisnya ide besar biasanya terselip di antara pedasnya kritikan

Pokoknya tulis dulu

Tulisanku tak segera sampai ke layouter. Berminggu-minggu nangkring di komputer editor. Mulai dari editor bahasa yang sering bolak-balik membuka kamus sampai editor naskah yang sering bolak-balik membuka “kutubut tis’ah”, semua bekerja agar tulisan petama ku itu terlahir sempurna sebagai sebuah buku yang layak dijual.

Tapi saat naskah sampai di ketua imprint dan tim kreatif hujan kritik mulai mengguyur tulisanku. Tidak sesuai pasar lah, harus dirombak total lah, disuruh mengurangi tema-tema yang tidak perlu, sampai pada keputusan tragis BATAL DITERBITKAN. Tapi namanya juga tulisan perdana, kuulangi kembali naskahku tadi, untung saja pak editor naskah dan bahasa tetap setia menambal dan memperbaiki tulisanku. Dan akhirnya jadi juga tulisanku yang pertama.

Menulis memang gampang-gampang susah, tapi jika Anda sudah ketemu ide dan rentetan gagasan yang menyambung menjadi sebuah tema utama sebuah buku, tulislah! jangan perhatikan masalah EYD, kosa kata, atau aturan-aturan penulisan yang lain. Ini bukan saatnya mengedit, saat menulis Anda adalah penulis bukan editor. Nanti akan ada waktunya untuk “mengkritik” (baca: mewrevisi) tulisan agar didapat tulisan yang lebih baik. Pokoknya kalau ada ide tulis, tulis dan tulis!

(lagi…)

Ada kebiasaan baru di kantorku, tradisi ngantuk saat jam ngantor. Bayangkan jika dalam sehari rata-rata seseorang tidur di kantor selama 2 jam di luar jam istirahat. Anehnya lagi, tidurnya ga pandang tempat. Asal suasana tenang dan teduh, yah.. pulas deh. tak pandang bulu sedang posisi duduk, jongkok atau bersandar.  Puihh… enake rek…

Lucunya, “Virus Kantuk” ini hanya menyerang mereka yang baru saja menikah. Tak kirain dulu pas aku nikah hal itu hanya omong kosong belaka. Eee… ternyata banyak yang kena juga (ngantuk juga). Satu sampel, tentunya belum cukup buatku untuk membenarkan hipotesa ini. Tapi dugaan ku mulai terpatahkan saat temanku yang lain yang baru saja nikah satu pekan yang lalu, tidur di bawah meja karena ngantuk berat. Ngobrol belum ada lima menit, langsung hilang di alam mimpi. Alamaak…..

Sebenarnya kasus serupa merupakan hal yang wajar. Asal bisa mengatur ritmenya saja Insya Allah akan sembuh. Maklum ada yang mengganggu jadwal tidur :) (eh.. mengganggu atau diganggu??)

Cek…cek..cek… Bagi yang lum nikah mungkin bisa dipersiapkan bantalnya di kantor mulai sekarang ya… !! Waaksss….

Ada yang mau nulis buku?

Ternyata tidak sedikit lho yang berminat dan berkeinginan selangit untuk nulis buku, tapi yang bener-bener bisa nulis dan jadi buku itu yang sedikit. Apalagi yang diterbitkan… wah lebih sedikit lagi.

Menjadi seorang penulis itu ibarat ibu yang akan melahirkan anak. Ada kaitan yang sangat erat antara menulis dengan mengandung, yaitu sama-sama MELAHIRKAN. Jika seorang ibu yang mengandung akan melahirkan anak, maka seorang penulis yang “mengandung” ide akan melahirkan buku. Teknik menulis agar dapat melahirkan buku yang baik ternyata sama persis dengan teknik merawat bayi dalam kandungan agar nantinya melahirkan bayi yang sehat… (cieee… kapan jadi dokter mas…? :)

Sebagai seorang penulis tentunya harus mempunyai seabreg ide yang telah dipersiapkan. Ide ini bisa muncul dari mana saja, dari internet, saat jalan-jalan, di pasar atau saat baca buku. Atau bahkan saat dimarahi atasan (upssst… :) ). Jika ide sudah didapat segera simpan baik-baik dalam memori dan tambahkan ide-ide lain yang bersangkutan dengan ide utama tadi. Penambahan ide inilah yang disebut “mengandung Ide”. Bagusnya seseorang yang mengandung ide itu akan berkembang dan membesar seiring berjalannya waktu. Sebenarnya kita menemui banyak ide yang berseliweran di depan kita. Hanya saja perlu latihan yang serius agar ide-ide yang berserakan tadi bisa kita satukan. dan jadilah tema yang menarik untuk membuat buku.

Nah, jika ide tadi sudah terkumpul, segera tuangkan dalam bentuk tulisan. Keluarkan seluruh ide yang ada dalam memori tadi. Seluruhnya! jangan tersisa! Inilah yang disebut proses MELAHIRKAN ide. Sulit memang tapi yakinlah itu akan membuat pikiran Anda lega. Inilah rahasia penulis-penulis kawakan. Mereka bisa menulis dengan cepat dan dalam waktu yang singkat karena memang telah mengandung. Dia sudah hamil tua, dan tangannya sudah gerah untuk melahirkan ide tersebut. sehingga jika tangan sudah bertemu pena dan kertas, terjadilah proses melahirkan (baca : menulis) ini dengan cepat. Luncuran ide mengalir dengan deras.

(lagi…)

shock breaker

Jangan salah kira dulu, judul di atas bukan tulisan jerman lho… Itu tulisan yang saya baca di plank di pinggi jalan. Masih banyak teman sejawatnya yang lain. Dari yang biasa dan lugu sampai yang dibuat keren semua ada. Misal, sok beker, skok beker, sekox biker, skog beker, shox breker atau bahkan skog breker. Belum lagi saudara tirinya, kentheng mejik, kenteng mejig, kenteng magic, kentheng majik, kenteng mijik atau bahkan kuenteng muagic (yang benar yang mana hayooo…?)

Hehehe… jadi lucu saat membacanya. Penglihatanku langsung tertambat di plank-plank itu bila sesekali melintas di bengkel SHOCK BREAKER atau di KENTHENG MAGIC. Memang bahasa Indonesia menyerap banyak kata-kata asing baik lokal maupun non-lokal. Jadi wajar bila selalunya banyak ditemui kata-kata nyleneh. Lha wong tulisan di koran atau buku saja masih banyak yang perlu diedit. Apalagi di jalanan.

Hehehe… Maklum di kantor kerjaannya meng-edit tulisan… :)