Entah sejak kapan aku sudah tidak menulis. Jari-jariku terasa semakin cepat lelah saja saat mulai menari di atas key board. Belum satu paragraf selesai, satu-persatu jari-jemariku mulai ijin, mundur teratur, lelah. Ah… masak harus seperti ini…

Entah mengapa juga ini bisa terjadi. Seolah letupan ide-ide yang meledak-ledak di kepala tertahan sampai di ujung jari, tidak bisa tersalurkan lewat tulisan. Ya Allah, aku rindu akan romantisme yang dulu. sepenggal kisah romantis jari dan keyboard. Saat-saat dimana jari-jemariku meliuk-liuk di atas key board dengan cantiknya. menguras seluruh isi otakku dalam lautan kata dan huruf, yang terangkai dalam sebuah karya apik.
Ah… ini belum begitu lama. Key board masih terpampang seperti dulu. TAnganku juga masih semanis dan setangguh dulu. HAsratku juga masih meledak-ledak seperti dulu.

Ayo jun, kamu bisa nulis lagi!! Semangat!!

Saya muak dengan kampanye.

Benar-benar muak!!

Mereka sudah merebut seluruh inderaku. Penglihatanku, pendengaranku, penciumanku, otakku… juga perasaanku.

Masih adakah tempat untuk tidak melhat mereka, tampang culun dan sok mereka, bendera dan panji-panji mereka?

Masih adakah tempat yang bebas dari asap kenalpot, debu dan suara bising mereka?

Masih adakah tempat yangebas dari amplop-amplop jahannam itu yang membakar seluruh urat nadi.

yang terbebas dari goyangan wanita penghibur neraka?!

yang terbebas dari busa-busa mulut busuk penuh janji gombal seabad belum dicuci itu??!

yang terbebas dari rayuan busuk para pengemis ….

DAsar PEngemis!!!!!

Dasar tukang tipu, pembuat onar!!!!!!

Benar-benar memuakkan!!!!!!!

Kok bisa? Iya bisa! Paling tidak itu kalimat kunci hasil dolan ke Jakarta lusa. Ada hal menarik yang bisa saya ambil dari perjalanan kemarin. Mulai dari insting mengemudi hingga insting membuat buku. Setiap orang ahli memiliki insting di bidangnya hingga hasil dari pekerjaannya memiliki “nyawa”.

Mulai dari insting mengemudi. Pak Ozik, sopir rombongan kami memang sudah “piawai” menyetir mobil. Menurutnya perjalanan Jakarta-Solo bukan perjalanan panjang. Wess… mobil melaju kencang. Pas melewati wilayah bogor, insting pengemudinya berjalan. Saya tidak bisa tidur, bagaimana mau tidur, jantung saya berdegup kencang. Mobil ngepot ke kiri, tiba-tiba langsung ke kanan. Dalam waktu tak begitu lama langsung tancap gas, 2-3 mobil terlamui. Belum lagi kalau pas ga ada lampu penerang jalan sama sekali. Wuihh…. badan jalan ga terlihat, tapi tetep saja mobil melaju kencang. Insting sopir memang lain dengan insting kuli laptop seperti saya. Pak Ozik tenang-tenang saja, padahal perutku sudah pusing dan kepalaku sudah mual pengin muntah (waduh…).

Di Jakarta juga begitu, saatbersama teman jakarta kita diboncengin sepeda motor. MAsyaAllah…. cara nyepedanya itu lho… Werrrr…. siiitt…. dua-tiga bis dilalui, melipat jalan, menyerobot celah sempit antar mikrolet adalah hal wajar di Jakarta. Seandainya waktu itu posisi kaki saya, saya buka waktu bonceng di belakang, alamat sudah nyangkut di belakang mikrolet. Sekali lagi insting pengemudi sepeda motor Jakarta saja lain dnegan di Solo.

Yang terakhir saat di pameran buku. Bejubel buku memenuhi stan-stan yang tertata rapi. Manakah yang menarik perhatian? selain promo tiap stan tentunya garapan buu itu sendiri. Sekali lagi, Insting menulis dan memermak buku agar buku tampil “jreng” dipertaruhkan di sini. Di tengah bejubelnya penerbit dan buku-buku ISlam. Adakah Anda sudah mengasah Insting Anda hari ini?

Banyak suami dapat mendengarkan dengan baik teman kantornya,
Tapi sedikit yang sabar mendengarkan keluh kesah istrinya dengan seksama!

Matahari sudah mengintip peraduannya dalam senja. Angga terhuyung-huyung gontai menuruni tangga kantornya. Penat terasa di setiap persendian tubuhnya. Seharian ia membanting tulang, menatap tiap inci “istri kedua” si laptop pujaan hatinya. Meskipun begitu dia masih dapat bercanda lepas dengan teman kantornya, bergurau agar penat itu sedikit terobati. Setiap hari aktivitas itu dia lakoni, dengan harapan dapat menghidupi istri dan anaknya tercinta.

Sesampainya di rumah, istrinya, Zulaikha, menyambut dengan ceria. Senyum semburat menyimpul di sudut-sudut bibirnya yang sedari tadi sudah ia bersihkan untuk suami tercinta. Walaupun sebenarnya tubuhnya yang kecil itu juga merasakan penat yang sama dengan suaminya. Si Arif, anak kecilnya, sedari pagi tadi menangis terus. Cucian yang menumpuk, teras yang kotor tadi pagi, sekarang sudah bersih semua. Teh hangat juga sudah tersaji di atas meja, persis sama saat Angga akan berangkat kerja. Namun Angga hanya membalasnya dengan sikap datar. Angga yang telah lelah, merobohkan tubuhnya di atas kasur. Bergeming terhadap Zulaikha.
Malam mulai tiba, Isya’ telah lewat sedari tadi. Zulaikha mencari-cari kesempatan agar dapat bercanda dengan suaminya. Ia hanya ingin merasakan bahwa dirinya “ada” dalam kehidupan suaminya. Ia hanya ingin diperhatikan suaminya, hanya itu. Tapi apa dikata, Angga sudah terlelap dalam alam mimpinya. Meninggalkan Zulaikha dengan sejuta pengharap (lebih…)

Bertemu Homo? ga salah nih? seumur-umur baru kali ini ketemu homo. Rasanya mau muntah. bener, suerrr….. bayangkan saja, laki-laki kok seneng sama laki-laki, sama sekali tidak bisa dibenarkan dari sisi manapun.
Tapi itulah dunia. Kemarin saat saya bersama temen-temen tour ke waduk gajahmungkur, ngontel dari solo, mendapati “Sepasang” homo ini. Kalau ketahuan duluan, mungkin si Adfan, temenku yang rada sangar dikit, sudah melayangkan “salam kenal” buat tu homo. Sayang, ketahuannya setelah mereka beraksi di kamar mandi. BErdua!!! Kamar mandi masjid lagi…. !!
Telisik punya telisik, kejadian seperti itu ternyata bukan hanya kali ini saja.Temenku si Arif juga memiliki cerita sendiri. Menurut pengakuannya, tetangganya yang lesbi juga seperti itu. Cemburunya bukan main, malah lebih cemburu dibanding pasangan normal. Yang lebih lucu lagi, ada juga seorang istri yang rela meninggalkan suaminya hanya gara-gara lebih memberatkan pilihan hatinya pada “pacar gelapnya” yang sama-sama perempuan!!

Dunia…dunia….

Pagi tadi, baru saja istriku menelponku. Katanya hanya ingin mendengar suara saya. Wah…wah… aku jadi tersanjung, gimana nggak tersanjung? lha wong suara kayak geledek gini kok dibilang merdu, syahdu, mendinginkan Qalbu (halah, dua kata terkahir tambahan saya kok…šŸ˜€ ). Btw, begitulah cinta. KAlau orang sudah cinta, apa saja bisa beda. YAng tubunya pendek ee..di sebut imut, yang kulitnya hitam, dibilang sawo matang, yang suara serak (seperti saya) ee… dibilang merdu. Memang aneh…

Hal itu ukan barang baru, karena para pecinta memang budak bagi yang ia cintai. Para perindu merupakan tawanan, dan yang dicinta, yang dipuja merupakan raja. BEtapa banyak orang-orang yang terjungkal, terkorbankan demi meraih apa yang dipujanya. MAkanya tempatkan Allah sebagai puncak cinta, agar pengorbanan ini tidak sia-sia….

halah-halah

halah-halah

cek…cek…cek…. apa hubungannya coba?

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.